Informasi › Artikel
  • Sebelum Mendunia, Topeng Tugek Carangsari Ternyata Bernama Luh Manik

    I NYOMAN GEDE ARDI YANA PUTRA, S.KOM

    Kamis, 24 September 2026 11:40 WITA | 112 kali dibaca

    Sebelum Mendunia, Topeng Tugek Carangsari Ternyata Bernama Luh Manik
    Foto : Sebelum Mendunia, Topeng Tugek Carangsari Ternyata Bernama Luh Manik

    Jauh sebelum nama “Topeng Tugek Carangsari” dikenal hingga mancanegara, sosok perempuan di balik topeng itu ternyata memiliki nama lain “Luh Manik”.

     

    Nama tersebut diberikan langsung oleh sang maestro, I Gusti Ngurah Windia, asal Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Namun sejarah kemudian memilih nama yang berbeda. Di sebuah pentas di Tabanan pada era 1970-an, masyarakat menyambut sang maestro dengan satu panggilan “Tugek”.

     

    Nama itu melekat. Dari panggung ke panggung, dari satu desa ke desa lainnya, Luh Manik perlahan menghilang dari ingatan penonton. Yang tersisa adalah Topeng Tugek.

     

    Puluhan tahun kemudian, nama itu menjadi salah satu identitas kesenian yang melekat kuat dengan Desa Carangsari, Kabupaten Badung.

     

    Kisah panjang tersebut dituturkan oleh putra keempat sekaligus anak bungsu sang maestro, I Gusti Ngurah Artawan, yang lebih akrab disapa Gung Tut.

     

    Ia tidak hanya mewarisi cerita tentang ayahnya. Ia tumbuh di tengah kesenian yang dibangun sang maestro sejak puluhan tahun silam, menyaksikan bagaimana sebuah kelompok seni yang awalnya tidak memiliki nama justru berkembang menjadi Topeng Tugek Carangsari.

     

    Semuanya Bermula dari Ngayah

     

    Gung Tut merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Ia memiliki dua kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki.

     

    Dari keluarganya, ia mengenal I Gusti Ngurah Windia bukan hanya sebagai seorang ayah, tetapi sebagai seniman yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia seni tradisional. Cerita itu bermula sekitar dekade 1960-an.

     

    Pada masa tersebut, sang maestro kerap melakukan ngayah di pura-pura. Tidak ada bayaran. Tidak ada panggung besar. Tidak ada ambisi untuk menjadi terkenal.

     

    Ia menjalani ngayah dalam berbagai bentuk, mulai dari bebondresan hingga pertunjukan tradisional lainnya.  Dari ruang-ruang sederhana itulah ketertarikannya terhadap seni pertopengan tumbuh.  Ia mulai mencoba memerankan sejumlah tokoh topeng dalam berbagai pertunjukan di pura.

     

    Dari pengalaman tersebut, ia perlahan menemukan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Bakatnya ada di sana.

     

    “Beliau sering ngayah-ngayah di pura-pura. Baik itu ngayah bebondresan maupun pertunjukan lain yang sifatnya tradisional. Kemudian beliau tertarik dengan pertunjukan atau seni pertopengan,” tutur Gung Tut.

     

    Respons masyarakat ikut memperkuat langkah tersebut. Keluarga mendukung, masyarakat memberikan apresiasi. Dari situlah muncul keyakinan untuk menekuni seni pertopengan secara lebih serius.

     

    Sang maestro kemudian menghimpun kawan-kawan yang memiliki kegemaran sama dan membentuk sebuah sekaa (kelompok/komunitas) patopengan.

     

    Namun ada satu hal yang menarik. Sekaa itu belum memiliki nama. Tidak ada guru khusus. Tidak ada pola Latihan, panduan buku. Tidak ada konsep pertunjukan yang dirancang sejak awal. Mereka belajar secara otodidak, berkumpul karena memiliki kecintaan yang sama terhadap seni topeng.

     

    “Tidak ada guru, tidak ada panduan, tidak pernah belajar. Beliau menghimpun diri dengan kawan-kawan yang hobinya sama menekuni seni di bidang topeng,” kata Gung Tut.

     

    Kelompok itu berjalan begitu saja. Tetapi masyarakat menyukainya. Dari sana, sesuatu yang awalnya tidak dirancang secara khusus justru tumbuh menjadi identitas.

     

    Ketika Masyarakat Memberinya Nama

     

    Memasuki akhir 1960-an hingga awal 1970-an, kelompok tersebut mulai sering pentas di berbagai wilayah Kabupaten Badung. Mereka berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Belum ada nama besar yang melekat. Mereka hanya dikenal sebagai kelompok topeng yang pertunjukannya disukai masyarakat.

     

    Sampai akhirnya sebuah perjalanan ke Tabanan mengubah semuanya.

     

    Ketika rombongan tiba dan sang maestro turun dari mobil, masyarakat menyambutnya dengan panggilan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

     

    “Tugek datang.”

     

    “Oww, ini Tugeknya datang,” tutur Gung Tut sambil menirukan ucapan masyarakat kala itu. Tidak ada rapat.

     

    Tidak ada keputusan resmi. Tidak ada strategi membangun sebuah merek kesenian.

     

    Nama itu lahir begitu saja dari mulut masyarakat. Dan kemudian menjadi sejarah.

     

    Salah satu karakter perempuan yang dimainkan I Gusti Ngurah Windia sebenarnya bernama Luh Manik. Nama itu diberikan oleh sang maestro untuk karakter tersebut.

     

    Namun masyarakat Tabanan memiliki kebiasaan menyebut perempuan dengan sebutan “tugek”, sementara laki-laki disebut “gung”

     

    Nama panggung itu akhirnya lebih dikenal daripada nama karakter aslinya.

     

    “Sepertinya sudah alam yang mengatur. Kita memiliki nama asli, kemudian nama tenar kita di panggung berbeda,” ujar Gung Tut.

     

    Sejak saat itulah nama Topeng Tugek Carangsari mulai dikenal luas. Luh Manik menjadi nama asli karakter tersebut. Topeng Tugek menjadi nama yang dibawa ke panggung.

     

    Jalan Kaki, Menyeberangi Sungai, Mengejar Panggung

     

    Popularitas Topeng Tugek tidak lahir dalam keadaan serba mudah.

     

    Ada masa ketika perjalanan dari satu desa ke desa lainnya membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Infrastruktur jalan belum seperti sekarang. Kendaraan terbatas. Komunikasi pun belum mengenal telepon genggam.

     

    Menurut penuturan ayahnya, kata Gung Tut, sang maestro bahkan kerap berjalan kaki menuju lokasi pentas.

     

    Salah satu kisah yang masih diingat adalah ketika mereka hendak pentas di Payangan. Perjalanan menuju lokasi harus melewati sungai. Begitu pula saat pentas di Basangbe, di sebelah barat Tukad Penet. Rombongan harus berjalan berkilo-kilometer dan menyeberangi sungai.

     

    Bagi generasi sekarang, perjalanan semacam itu mungkin terasa sulit dibayangkan.  Tetapi bagi sang maestro, semua dijalani dengan senang hati. Persoalan lain adalah komunikasi. Tidak mudah mengetahui kapan pertunjukan dimulai, bagaimana menghubungi kelompok, atau memastikan jadwal pentas seperti sekarang yang cukup dilakukan melalui telepon.

     

    Namun keterbatasan teknologi pada masa itu tidak membuatnya berhenti. Justru dari perjalanan panjang itulah nama Topeng Tugek semakin dikenal dari desa ke desa.

     

    Dari Panggung Desa hingga Eropa

     

    Popularitas sang maestro akhirnya menarik perhatian lebih luas. Pemerintah maupun pihak swasta mulai melihat sosok I Gusti Ngurah Windia sebagai figur yang memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat.

     

    Ia bahkan beberapa kali digunakan dalam iklan produk-produk swasta. Ketika sebuah produk membutuhkan sosok yang sudah dikenal masyarakat, sang maestro menjadi salah satu pilihan. Dari pemerintah, perjalanan sang maestro kemudian bergerak lebih jauh.

     

    Ia dipercaya membawa kesenian sebagai duta atau misi kesenian negara. Bukan hanya berkeliling Indonesia, I Gusti Ngurah Windia juga membawa Topeng Tugek Carangsari ke berbagai negara.

     

    Saat itu Gung Tut masih duduk di bangku SMP. Ia menyaksikan sang ayah melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia untuk memperkenalkan seni topeng Bali. Eropa, Amerika, Jerman, Italia, India hingga Denmark menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Kesenian yang lahir dari ngayah di pura-pura itu akhirnya sampai ke panggung internasional.

     

    Topeng Tugek Tidak Pernah Dirancang Menjadi Maskot

     

    Ironisnya, karakter yang kemudian menjadi identitas utama itu sebenarnya tidak pernah dirancang sebagai maskot. I Gusti Ngurah Windia memiliki sejumlah karakter dalam pertunjukannya.

     

    Ada tokoh Dukuh, Pendeta dan berbagai karakter bondres. Di antaranya Bondres Bongol, Cungih, Gede Sirkus hingga Bondres Topeng Tugek. Semuanya dimainkan dalam pertunjukan.

     

    Namun dari sekian karakter tersebut, masyarakat justru paling kuat mengingat Topeng Tugek.

     

    “Nampaknya masyarakat dan alam semesta merestui dan menjadikan Topeng Tugek ini sebagai primadona atau maskot,” kata Gung Tut.

     

    Karakter itu kemudian tumbuh jauh melampaui perannya sebagai salah satu tokoh pertunjukan.

     

    Ia menjadi identitas.

     

    Ia menjadi nama.

     

    Dan akhirnya menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Bali.

     

    Wajahnya Buruk, Tetapi Mengapa Justru Menjadi Cantik?

     

    Ada paradoks menarik pada karakter Topeng Tugek.

     

    Ia adalah sosok perempuan. Tetapi wajahnya tidak digambarkan sebagai perempuan cantik. Dalam istilah Bali, wajahnya bahkan disebut “bocok” atau buruk rupa. Namun ketika karakter itu hidup di atas panggung, penonton justru melihat sesuatu yang berbeda.

     

    Gung Tut menghubungkannya dengan konsep kecantikan yang dikenal pada zaman sekarang: Brain, Beauty, Behavior. Topeng Tugek mungkin tidak memiliki beauty dalam pengertian fisik.

     

    Tetapi ia memiliki brain dan behavior. Kecerdasan, perilaku, tata bahasa, cara berbicara serta pesan yang disampaikan membuat karakter tersebut memiliki daya tarik tersendiri.

     

    “Di beauty-nya mungkin dia kurang. Tetapi brain dan behavior-nya, perilakunya, tata bahasanya dan pesan yang disampaikannya itu membuat dia menjadi cantik,” tutur Gung Tut.

     

    Karena itulah Topeng Tugek tidak cuma menghadirkan sosok perempuan di atas panggung. Ia membawa gambaran bahwa kecantikan tidak berhenti pada rupa.

     

    “Tat Sat Sat Tat”: Ketika Tattwa Disampaikan Lewat Cerita

     

    Kekuatan Topeng Tugek Carangsari juga terletak pada cara menyampaikan pesan.

     

    Gung Tut menyebut ada sebuah rumus dalam seni pertopengan tersebut: “Tat Sat Sat Tat.”

     

    “Tat” berarti tattwa, sementara “Sat” berarti satua atau cerita. Artinya, tattwa digunakan untuk bercerita dan cerita digunakan untuk menyampaikan tattwa. Pesan kehidupan tidak harus selalu disampaikan dengan wajah serius.

     

    Dalam pertunjukan Topeng Tugek, cerita bisa mengalir melalui dialog yang lugas, lucu dan penuh banyolan. Bahkan cerita atau babad yang sakral dapat disampaikan dengan humor.

     

    Namun humor tersebut bukan lelucon vulgar atau porno. Ada kata-kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna lain. Jelas di permukaan, terselubung di dalam.

     

    “Itulah yang disebut Tat Sat Sat Tat. Bagaimana dialog dan kanda-kanda yang ada di pertunjukan mencerminkan tattwa dan satua,” jelas Gung Tut.

     

    Bagi Gung Tut, konsep inilah yang menjadi salah satu kelebihan Topeng Tugek.

     

    Gerakan yang Tampak Sederhana, tetapi Sulit Ditiru

     

    Keunikan Topeng Tugek tidak berhenti pada karakter dan dialog. Gerakannya pun memiliki ciri khas.

     

    Tidak ada tari Topeng Tugek dalam pengertian gerakan tari yang memiliki pola khusus. Gerakannya lebih menyerupai cara seorang perempuan berjalan. Tetapi justru kesederhanaan itu yang sulit ditiru.

     

    Perempuan dengan wajah buruk digambarkan berjalan dengan kelembutan dan keanggunan seperti perempuan cantik.

     

    “Kalau orang cantik berjalan dengan baik itu kan pas. Ini malah orang buruk yang seolah olah jadi orang cantik. Di situlah nilai uniknya,” ujar Gung Tut.

     

    Ia sendiri, sebagai anak sang maestro, mengaku belum mampu meniru gerakan ayahnya secara utuh. Pakar tari mungkin dapat mengikuti bentuk gerakannya. Namun kelembutan dan kepangusan yang menjadi rasa dalam gerakan tersebut sulit didapatkan.

     

    Menurut Gung Tut, keunikan itu merupakan sesuatu yang melekat secara khusus pada sang maestro. Hal serupa terdapat pada vokalnya.

     

    Topeng Tugek memiliki suara yang khas serta gending yang diciptakan sendiri oleh I Gusti Ngurah Windia. Tidak mengambil tembang dari tempat lain, sehingga karakter suara dan musiknya menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari Topeng Tugek.

     

    Meniru Boleh, Menjadi Sang Maestro Tidak Mungkin

     

    Setelah sang maestro tiada, banyak seniman tetap mempelajari dan mengembangkan seni pertopengan.

     

    Menurut Gung Tut, saat ini telah banyak seniman topeng bermunculan di Bali. Banyak yang memiliki kemampuan bagus.

     

    Namun, untuk menghadirkan Topeng Tugek persis seperti yang dimainkan I Gusti Ngurah Windia, menurutnya merupakan perkara berbeda.

     

    Ia sendiri tidak melihat hal tersebut sebagai persoalan siapa yang paling baik. Gaya dan teknik Topeng Tugek boleh menjadi inspirasi. Tetapi seorang seniman tetap harus menjadi dirinya sendiri.

     

    “Bukan berarti beliau yang terbaik. Lebih baik kita menjadi diri kita sendiri, tetapi inspirasinya dari beliau,” katanya.

     

    Sebab seorang seniman lahir dengan karakter, pengalaman dan proses yang berbeda.

     

    Topeng Tugek dan Aturan Sakral di Baliknya

     

    Topeng Tugek diperankan oleh laki-laki yang memainkan sosok perempuan. Tidak ada syarat khusus yang hanya berlaku untuk Topeng Tugek.

     

    Namun, sebagai bagian dari seni topeng Bali, penarinya tetap harus menjalani berbagai ritual dan persyaratan. Ada aspek upakara, agama dan spiritual yang harus diperhatikan.

     

    Persyaratan tersebut tidak hanya berlaku untuk Topeng Tugek, tetapi merupakan bagian dari keseluruhan tradisi seni topeng Bali.

     

    Dengan demikian, menjadi penari topeng bukan hanya soal kemampuan memainkan karakter di atas panggung. Ada tanggung jawab spiritual yang menyertainya.

     

    Dari Yadnya Menuju Pariwisata

     

    Pada masa I Gusti Ngurah Windia, Topeng Tugek banyak dipentaskan dalam kegiatan yadnya di pura. Pertunjukan menjadi bagian dari hiburan dan wali, termasuk pertunjukan yang dilengkapi dengan Topeng Sidakarya.

     

    Selain itu, Topeng Tugek juga hadir dalam berbagai kegiatan pemerintah, swasta dan acara lainnya. Kini, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana kesenian tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.

     

    Salah satu jawabannya ditemukan ketika Carangsari dikembangkan sebagai desa wisata.

     

    Pada 2019, ketika muncul wacana lomba desa wisata se-Indonesia, Carangsari ditunjuk Pemerintah Kabupaten Badung untuk mewakili Bali. Salah satu syarat desa wisata adalah memiliki berbagai spot tourism.

     

    Dalam konteks Carangsari, wisata budaya menjadi salah satu fondasi penting. Desa tersebut memiliki maestro Topeng Tugek Carangsari dan sanggar seni yang bergerak dalam bidang seni tradisional.

     

    Dari potensi tersebut, muncul gagasan Tugek House Activity yang digagas Ida Bagus Namarupa, Ketua Desa Wisata saat itu. Konsepnya membawa seni tradisional lebih dekat dengan wisatawan.

     

    Wisatawan yang datang ke Carangsari tidak hanya melihat pertunjukan. Mereka dapat belajar seni Bali secara langsung, mulai dari menari, menabuh, melukis, mengukir hingga pedalangan.

     

    Program tersebut masih berjalan hingga kini, meskipun aktivitasnya mengikuti siklus pariwisata.

     

    Agar Seni Tidak Hanya Menjadi Kenangan

     

    Bagi Gung Tut, mempertahankan seni tradisional tidak berarti menutup diri dari perubahan. Pertunjukan harus tetap relevan dengan zaman. Ia membagi penonton menjadi tiga kelompok: anak-anak, remaja dan dewasa.

     

    Masing-masing membutuhkan “santapan” yang berbeda. Anak-anak menjadi kelompok pertama yang harus diperhatikan. Dialog dapat mengambil tema yang dekat dengan dunia mereka, termasuk hal-hal yang mereka sukai dan pengetahuan yang mereka dapatkan di era modern.

     

    Setelah itu, pertunjukan bergerak menuju kelompok remaja. Dunia percintaan, media sosial dan teknologi dapat masuk ke dalam dialog.

     

    Kemudian kelompok dewasa mendapat ruang yang lebih dalam melalui filsafat, tattwa dan tuntunan kehidupan.

     

    Dengan cara tersebut, pertunjukan dapat tetap menghibur sekaligus memberikan pesan. Tontonan dan tuntunan.

     

    Menjaga Nama yang Sudah Menjadi Identitas

     

    Topeng Tugek Carangsari juga telah memiliki hak kekayaan intelektual. Menurut Gung Tut, terdapat tiga kategori yang telah didaftarkan, yakni nama Topeng Tugek, pelaku Topeng Tugek dan bentuk topengnya.

     

    Perlindungan tersebut menjadi bagian dari usaha menjaga identitas kesenian yang telah berkembang selama puluhan tahun.

     

    Di sisi lain, regenerasi terus berjalan.

     

    Sanggar Seni Topeng Tugek Carangsari tetap aktif dan beberapa kali dipercaya menjadi duta Kabupaten Badung maupun Pemerintah Provinsi Bali.

     

    Anggotanya terus bertambah dan para seniman berupaya mempertahankan seni budaya tersebut. Menurut Gung Tut, pertumbuhan seniman topeng di Bali saat ini cukup baik. Style Topeng Tugek Carangsari juga mulai dikombinasikan dengan gaya seni lainnya.

     

    Namun, popularitas seperti masa sang maestro memang belum kembali terulang. Zaman telah berubah. Cara orang menikmati seni berubah.

     

    Bahkan “taksu” dan cara menghadirkan sebuah pertunjukan juga mengalami perubahan. Karena itu, menurutnya, seniman masa kini mungkin menemukan bentuk dan kemasan baru agar seni topeng tetap hidup.

     

    Seni yang Bertahan Karena Yadnya

     

    Ada alasan lain mengapa Gung Tut yakin seni tradisional Bali masih memiliki masa depan. Jawabannya ada pada masyarakat.

     

    Menurutnya, seni akan tetap hidup selama masyarakat mencintainya dan selama seni tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan. Terlebih di Bali, seni telah dipaketkan bersama upacara yadnya oleh leluhur.

     

    “Leluhur kita pintar, memaketkan seni dan budaya ke dalam upacara yadnya,” katanya.

     

    Selama masyarakat Hindu Bali masih menjalankan yadnya, seni akan selalu memiliki ruang. Di sebuah odalan di pura, misalnya, gamelan gong, tari dan hiburan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

     

    Seni tidak berdiri sendiri.

     

    Ia hidup bersama tradisi.

     

    Pemerintah pun memiliki peran melalui tiga hal yang dilihat Gung Tut sebagai bagian penting dari keberlanjutan seni: pelestarian, pengembangan dan pembinaan.

     

    Apa yang masih ada dilestarikan. Apa yang kurang dibina. Sementara hal-hal yang sudah tidak relevan dengan zaman dapat dikembangkan dan diinovasikan.

     

    Warisan yang Lebih Dalam dari Sebuah Topeng

     

    Bagi Gung Tut, peninggalan sang ayah tidak berhenti pada bentuk topeng atau teknik pertunjukan. Ada filosofi kehidupan yang justru paling membekas.

     

    Salah satunya adalah sebuah kalimat yang kerap disampaikan sang maestro:

    “Yan tan klana engke, tan ane maring elen.”

     

    Gung Tut mengaku baru memahami makna kalimat tersebut ketika berusia 40 tahun. Artinya, kurang lebih, jika tidak ada di dalam, tidak ada di luar.

     

    Bagi dirinya, pesan itu merupakan ajakan untuk terlebih dahulu menyelesaikan persoalan di dalam diri sendiri. Mengenal guru sejati, mengenal roh dan memahami diri sebelum sibuk mencari jawaban ke luar.

     

    Ia menggambarkan manusia yang mengejar Tuhan hingga berkeliling dunia. Menurut filosofi yang ia terima dari sang ayah, pencarian tersebut tidak akan selesai sebelum manusia mengenal dirinya sendiri.

     

    “Kalau di dalam hatimu tidak ada, di manapun tidak ada,” tuturnya.

     

    Kalimat itu kini menjadi bagian dari perjalanan hidup Gung Tut.

     

    Ia memilih berbenah dari dalam. Mengenal dirinya sendiri sebelum berusaha memahami dunia. Sebab, baginya, ketika seseorang mampu mengenal dirinya, alam semesta akan menemukan jalannya untuk mencintai manusia tersebut.

     

    Dari Luh Manik, Menjadi Topeng Tugek

     

    Pada akhirnya, perjalanan Topeng Tugek Carangsari bukan cuma kisah tentang sebuah topeng. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah kesenian bisa tumbuh tanpa rancangan besar.

     

    Dimulai dari ngayah.

     

    Dari sekelompok orang yang bahkan belum memiliki nama.

     

    Dari perjalanan panjang melewati jalan desa dan sungai.

     

    Dari satu panggung ke panggung lainnya.

     

    Kemudian sebuah panggilan sederhana dari masyarakat Tabanan mengubah semuanya. Luh Manik menjadi Topeng Tugek.

     

    Topeng Tugek kemudian menjadi nama yang melekat pada Carangsari.  Dari panggung pura hingga acara pemerintah dan swasta. Dari desa-desa di Bali hingga Eropa, Amerika, Jerman, Italia, India dan Denmark.

     

    Namun, di balik perjalanan hingga mendunia itu, warisan sang maestro ternyata jauh lebih besar daripada popularitas.

     

    Ia meninggalkan cara menyampaikan tattwa melalui satua. Mengajarkan bahwa kecantikan tidak selalu tentang rupa. Bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan bersama etika. Bahwa seni harus mampu menjadi tontonan sekaligus tuntunan.

     

    Dan mungkin, seperti filosofi yang diwariskan kepada putranya, perjalanan Topeng Tugek sesungguhnya tidak pernah hanya tentang apa yang terlihat di luar. Sebab di balik sebuah topeng, selalu ada sesuatu yang jauh lebih dalam untuk dikenali.


    Bagikan
Survei Icon

Bagaimana Pengalaman Anda?

Pendapat Anda sangat berarti bagi kami. Mari berpartisipasi dalam Survei Kepuasan Layanan Website Pemerintah untuk membantu meningkatkan kualitas pelayanan Pemerintah Kabupaten Badung.

TENTANG

Pemerintah Kabupaten Badung

Ini adalah website resmi Pemerintah Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.

Alamat
Jl. Raya Sempidi, Mangupura, Badung, Bali.

Media Sosial

KONTAK KAMI

  • Jl. Raya Sempidi, Mangupura, Badung, Bali.

  • diskominfo@badungkab.go.id

  • www.badungkab.go.id

FACEBOOK