Informasi › Berita
  • Kisah Penyintas Bom Bali: Sempat Trauma, hingga Bangkit Suarakan Perdamaian

    I NYOMAN GEDE ARDI YANA PUTRA, S.KOM

    Selasa, 13 Oktober 2026 13:31 WITA | 71 kali dibaca

    Kisah Penyintas Bom Bali: Sempat Trauma, hingga Bangkit Suarakan Perdamaian
    Foto : Kisah Penyintas Bom Bali: Sempat Trauma, Hingga Bangkit Suarakan Perdamaian

    Dua ledakan mengubah hidup Thiolina Ferawati Marpaung untuk selamanya. Penyintas Bom Bali I itu mengalami kerusakan pada kedua matanya setelah bom meledak di kawasan Jalan Legian, Kuta, pada Sabtu malam, 12 Oktober 2002. Lebih dari dua dekade berlalu, luka fisik, dan trauma masih menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, Lina kini memilih bangkit dan terus menyuarakan perdamaian dari Badung, Bali untuk dunia.

     

    Malam itu, Lina bersama dua rekan kantornya sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadiri acara ulang tahun klien. Mobil mereka melintas di tengah kemacetan Jalan Legian, tak jauh dari Paddy’s Pub dan Sari Club. Kawasan tersebut masih ramai oleh wisatawan yang menikmati malam akhir pekan.

     

    Tiba-tiba, ledakan pertama terdengar. Lina sempat bertanya kepada kedua rekannya apakah mobil mereka ditabrak dari belakang. Belum mendapat jawaban, ledakan kedua kembali terjadi. Di tengah kepanikan, ia melihat salah seorang rekannya terkulai di dashboard.

     

    “Saat ledakan pertama, saya masih bertanya apakah mobil kami ditabrak dari belakang. Belum sempat dijawab, bom kedua meledak. Saya melihat teman saya sudah ngeplek di dashboard,” kenang Lina, saat diwawancara usai doa bersama lintas agama peringatan 24 tahun tragedi bom bali di Ground Zero, Jl. Legian, Kuta (12/10/2026). 

     

    Akibat ledakan tersebut, kedua mata Lina mengalami kerusakan serius. Ia harus menjalani penanganan medis panjang, termasuk mencari donor hingga ke Australia karena sulit mendapatkannya.

     

    Hingga kini, Lina masih rutin menjalani pemeriksaan mata. Dokter memantau kondisinya, terutama karena terdapat benda yang dipasang untuk menjaga retina. Seiring bertambahnya usia, kondisi matanya tetap memerlukan pengawasan medis.

     

    “Dokter masih meminta saya rutin check-up sampai sekarang. Seiring bertambahnya usia, kondisi mata harus terus dipantau karena ada benda yang dipasang untuk menjaga retina,” ujarnya.

     

    Dua rekannya yang berada di dalam mobil juga mengalami luka bakar parah. Sekitar tiga perempat tubuh mereka terbakar. Keduanya sempat bertahan hidup, tetapi salah seorang rekannya meninggal dunia saat pandemi COVID-19. Menurut Lina, rekannya itu masih memiliki serpihan logam atau gotri di paru-paru akibat ledakan yang tidak dapat diangkat dokter. Kondisi tersebut turut memengaruhi daya tahan tubuhnya.

     

    Tragedi Bom Bali meninggalkan trauma mendalam bagi Lina. Pada awalnya, ia bahkan tidak ingin mendengar pembicaraan mengenai peristiwa tersebut. Namun, keputusannya berubah setelah sejumlah perempuan yang kehilangan suami akibat tragedi itu meminta bantuannya untuk memperjuangkan hak keluarga korban.

     

    “Mereka bilang, ‘Lina, bantu kami agar bisa mendapatkan hak kami.’ Dari situ, saya tergerak untuk bergabung dengan mereka,” tuturnya.

     

    Pada 2005, Lina mendirikan Yayasan Isana Dewata. Bersama para penyintas lainnya, ia berupaya mendampingi keluarga korban sekaligus menjaga ingatan masyarakat melalui kegiatan peringatan dan doa perdamaian.

     

    Lina mengakui sempat marah dan mempertanyakan mengapa dirinya harus menjadi korban. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai melakukan introspeksi, menerima kenyataan, dan memaafkan para pelaku.

     

    Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti mengingat tragedi yang dialami. Sebaliknya, Lina menjadikan pengalaman pahit itu sebagai dorongan untuk membantu sesama dan mencegah kekerasan serupa terulang.

     

    Bagi Lina, perdamaian hanya dapat tumbuh jika dilandasi kasih sayang terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk hidup. Prinsip itu terus ia pegang, termasuk melalui kegiatan doa lintas agama untuk mengenang tragedi Bom Bali.

     

    Meski menghadapi keterbatasan anggaran, Lina bersama rekan-rekan penyintas tetap berupaya menyuarakan perdamaian.

     

    “Perdamaian itu bisa terjadi jika dilandasi rasa kasih kepada sesama dan seluruh makhluk hidup. Meski tidak ada anggaran, kami tetap berusaha menyuarakan perdamaian dari Bali untuk dunia,” tegasnya.

     

    Ia berharap doa lintas agama dapat menggugah hati setiap orang untuk berbuat baik dan menjaga kerukunan. Bagi Lina, mengenang tragedi Bom Bali menjadi pengingat pentingnya merawat toleransi, persatuan, dan kasih sayang agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.


    Bagikan
Survei Icon

Bagaimana Pengalaman Anda?

Pendapat Anda sangat berarti bagi kami. Mari berpartisipasi dalam Survei Kepuasan Layanan Website Pemerintah untuk membantu meningkatkan kualitas pelayanan Pemerintah Kabupaten Badung.

TENTANG

Pemerintah Kabupaten Badung

Ini adalah website resmi Pemerintah Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.

Alamat
Jl. Raya Sempidi, Mangupura, Badung, Bali.

Media Sosial

KONTAK KAMI

  • Jl. Raya Sempidi, Mangupura, Badung, Bali.

  • diskominfo@badungkab.go.id

  • www.badungkab.go.id

FACEBOOK