Informasi › Artikel
-
Selamatkan Lingkungan, Petani Didorong Gunakan Pupuk Organik
Admin
Jumat, 7 September 2018 00:00 WITA | 21065 kali dibaca
Foto : Selamatkan Lingkungan, Petani Didorong Gunakan Pupuk Organik Unsur hara secara perlahan akan berkurang dan kualitas tanah menurun. Atas dampaknya itu, petani didorong untuk beralih ke organik.Penggiat tanaman organik, I Wayan Sulendra, mengungkapkan produksi pupuk organik tidaklah sulit. Bisa memanfaatkan daun gamal, bonggol pisang dan lain sebagainya. Demikian juga dengan pembuatan pestisida hayati bisa memanfaatkan cendawan metarisium dan bauveria.Salah satunya untuk pengendalian hama wereng. “Pengendalian gunakan nabati dan hayati. Yang lebih bagus hayati karena aman, sesuai dengan konsep alam dan ramah lingkungan. Filosifinya mahkuk hidup harus dilawan dengan mahkuk hidup,” jelasnya disela-sela pelatihan produksi kepada petani di Subak Akah, Desa Akah, Kecamatan Klungkung, Senin (3/9).Khusus untuk penerapan pupuk organik, di awal hasil panen cukup rendah. Namun, jika dilakukan secara terus menerus, akan muncul hasil memuaskan. “Dengan pertanian sehat, ramah lingkungan, bisa mendapatkan produksi yang sehat dan berkualitas. Juga unggul karena harganya lebih mahal,” sebutnya.Menurut pria asal Kelurahan Semarapura Klod ini, menciptakan pertanian ramah lingkungan tak lepas dari pola pikir petani. Saat ini masih cukup sulit untuk diarahkan. Sebab sudah sangat lama mengandalkan pupuk kimia. “Masih sangat sulit mengubah pola pikir petani untuk menerapkan pertanian organik. Padahal dengan ini, kesuburan tanah akan lebih bagus baik secara fisik maupun secara kimiawi,” ujarnya.Di balik misi menyelamatkan lingkungan, produk pertanian organik belum didukung daya beli masyarakat. Masih ada yang menganggap cukup mahal. “Masih banyak yang melihat dari sisi harga. Produk organik belum begitu dilirik,” imbuhnya.Seorang petani, Wayan Sukra mengaku telah mencoba menggunakan pupuk organik. Dari sisi biaya, jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kimia.Hal tersebut membuat bebannya lebih ringan. “Kalau pakai urea, satu hektar butuh 200 kilo. NPK juga sama. Ini harganya dapat subsidi. Tetapi tetap mahal juga,” tuturnya.
Bagikan
Pemkab. Badung Distribusikan Logistik di 38 SPBU...
- 4 jam yang lalu
Ubah Sampah Jadi Cuan, DP2KBP3A Badung Latih Perem...
- 1 hari yang lalu
Badung Akhirnya Tetapkan Belajar Daring 3 Hari Imb...
- 1 hari yang lalu
Karang Taruna Dharma Santosa Mambal Masuk Nominasi...
- 1 hari yang lalu
Pemkab Badung Hadir di Tengah Antrean BBM, Utamaka...
- 2 hari yang lalu
-
PENGUMUMAN TENTANG PEMBERITAHUAN MEMPELAJARI BERKAS BANDING (INZAGE)
Rabu, 30 September 2026 09:52 WITA -
PENGUMUMAN TENTANG PEMBERITAHUAN MEMORI BANDING ELEKTRONIK
Rabu, 30 September 2026 09:44 WITA -
PERSYARATAN, KELENGKAPAN ADMINISTRASI DAN TAHAPAN SELEKSI DEWAS PERUSAHAAN UMUM DAERAH AIR MINUM TIRTA MANGUTAMA KABUPATEN BADUNG
Selasa, 20 Januari 2026 15:27 WITA -
PERSYARATAN, KELENGKAPAN ADMINISTRASI DAN TAHAPAN SELEKSI DIREKSI UMUM PERUSAHAAN UMUM DAERAH AIR MINUM TIRTA MANGUTAMA KABUPATEN BADUNG
Selasa, 20 Januari 2026 14:41 WITA -
Open Recruitment DEWAS Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana Kabupaten Badung
Kamis, 27 November 2025 13:09 WITA




