Situs Terkait

No. Nama Deskripsi
1 Mengurangi Dampak Pemanasan Global, Semua Bisa

Mengurangi dampak pemanasan global bisa dilakukan oleh setiap orang. Mengurangi dampak pemanasan global tidaklah harus memakai cara-cara yang ekstrem, rumit, dan mahal. Kita semua bisa ikut berperan memerangi pemanasan global dengan cara-cara yang sederhana dan murah.

Kunci utama dalam membatasi pemanasan global adalah dengan membatasi emisi karbondioksida (CO2) dan mencegah karbon dioksida (CO2) memasuki atmosfer atau mengambil CO2 yang ada. Sayangnya masih banyak manusia yang dengan sadar maupun tidak belum mampu menghindari berbagai aktifitas yang menjadi penyebab meningkatnya pemanasan global.

Sebagai contoh, seorang pekerja kantor belum mampu meninggalkan kendaraan pribadi yang berbahan bakar fosil lantaran masih mahal dan minimnya sumber tenaga alternatif yang ramah lingkungan. Ingin memanfaatkan moda angkutan umum, layanan yang tersedia jauh dari kelayakan. Pun seorang perokok yang belum mampu menghentikan hobinya.

Ingin ikut berperan mengurangi dampak pemanasan global, seumpama dengan menanam sebatang pohon Trembesi yang mampu menyerap CO2 hingga 28 ton pertahun terkendala pada realiata tempat tinggalnya yang hanya di sebuah rumah kontrakan yang tidak mempunyai halaman.

Namun membicarakan dampak pemanasan global tetaplah bukan pembicaraan yang tabu. Ikut andil dalam usaha mengurangi efek pemanasan global tetaplah bukan kegiatan yang mustahil.

2 Daftar Kota Peraih Piala Adipura 2010

Berikut daftar Kota dan Kabupaten peraih Piala Anugerah Adipura Tahun 2010:

Daftar Kota Metropolitan Peraih Piala Adipura 2010:

  1. Palembang (Kota Palembang)
  2. Jakarta Pusat (Kota Administrasi Jakarta Pusat)
  3. Jakarta Selatan (Kota Administrasi Jakarta Selatan)
  4. Surabaya (Kota Surabaya)
  5. Tangerang (Kota Tangerang)
  6. Jakarta Utara (Kota Administrasi Jakarta Utara)
  7. Jakarta Timur (Kota Administrasi Jakarta Timur)
  8. Jakarta Barat (Kota Administrasi Jakarta Barat)
  9. Bekasi (Kota Bekasi)

Daftar Kota Besar Peraih Piala Adipura 2010:

  1. Malang (Kota Malang)
  2. Pekanbaru (Kota Pekanbaru)
  3. Yogyakarta (Kota Yogyakarta)
  4. Balikpapan (Kota Balikpapan)

Daftar Kota Sedang Peraih Piala Adipura 2010:

  1. Tulungagung (Kabupaten Tulungagung)
  2. Jepara (Kabupaten Jepara)
  3. Probolinggo (Kota Probolinggo)
  4. Jombang (Kabupaten Jombang)
  5. Gresik (Kabupaten Gresik)
  6. Madiun (Kota Madiun)
  7. Cianjur (Kabupaten Cianjur)
  8. Banda Aceh (Kota Banda Aceh)
  9. Blitar (Kota Blitar)
  10. Lumajang (Kabupaten Lumajang)
  11. Sidoarjo (Kabupaten Sidoarjo)
  12. Pasuruan (Kota Pasuruan)
  13. Cimahi (Kota Cimahi)
  14. Kendari (Kota Kendari)
  15. Kediri (Kota Kediri)
  16. Bitung (Kota Bitung)
  17. Payakumbuh (Kota Payakumbuh)
  18. Magelang (Kota Magelang)
  19. Mojokerto (Kota Mojokerto)
  20. Manado (Kota Manado)
  21. Bontang (Kota Bontang)
  22. Sukabumi (Kota Sukabumi)
  23. Tanjungpinang (Kota Tanjungpinang)
  24. Cilacap (Kabupaten Cilacap)
  25. Palopo (Kota Palopo)
  26. Mataram (Kota Mataram)
  27. Parepare (Kota Parepare)
  28. Banjarbaru (Kota Banjarbaru)
  29. Pekalongan (Kota Pekalongan)
  30. Tarakan (Kota Tarakan)
  31. Cirebon (Kota Cirebon)
  32. Kudus (Kabupaten Kudus)
  33. Kupang (Kota Kupang)
  34. Lubuklinggau (Kota Lubuklinggau)
  35. Ternate (Kota Ternate)
  36. Curup (Kabupaten Rejang Lebong)
  37. Pangkalpinang (Kota Pangkalpinang)
  38. Bengkulu (Kota Bengkulu)
  39. Lahat (Kabupaten Lahat)
  40. Watampone (Kabupaten Bone)
  41. Metro (Kota Metro)

Daftar Kota Kecil Peraih Piala Adipura 2010:

  1. Amlapura (Kabupaten Karangasem)
  2. Pangkajene (Kabupaten Pangkep)
  3. Mojosari (Kabupaten Mojokerto)
  4. Singaraja (Kabupaten Buleleng)
  5. Pati (Kabupaten Pati)
  6. Nganjuk (Kabupaten Nganjuk)
  7. Lamongan (Kabupaten Lamongan)
  8. Kraksaan (Kabupaten Probolinggo)
  9. Tuban (Kabupaten Tuban)
  10. Caruban (Kabupaten Madiun)
  11. Bangli (Kabupaten Bangli)
  12. Gianyar (Kabupaten Gianyar)
  13. Bojonegoro (Kabupaten Bojonegoro)
  14. Banjarnegara (Kabupaten Banjarnegara)
  15. Boyolali (Kabupaten Boyolali)
  16. Wlingi (Kabupaten Blitar)
  17. Sarolangun (Kabupaten Sarolangun)
  18. Sumenep (Kabupaten Sumenep)
  19. Badung (Kabupaten Badung)
  20. Ngawi (Kabupaten Ngawi)
  21. Martapura (Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur)
  22. Purbalingga (Kabupaten Purbalingga)
  23. Indramayu (Kabupaten Indramayu)
  24. Purwodadi (Kabupaten Grobogan)
  25. Bangil (Kabupaten Pasuruan)
  26. Karanganyar (Kabupaten Karanganyar)
  27. Watansoppeng (Kabupaten Soppeng)
  28. Magetan (Kabupaten Magetan)
  29. Ponorogo (Kabupaten Ponorogo)
  30. Wonosobo (Kabupaten Wonosobo)
  31. Sibolga (Kota Sibolga)
  32. Sampang (Kabupaten Sampang)
  33. Ciamis (Kabupaten Ciamis)
  34. Barru (Kabupaten Barru)
  35. Limboto (Kabupaten Gorontalo)
  36. Sragen (Kabupaten Sragen)
  37. Negara (Kabupaten Jembrana)
  38. Pacitan (Kabupaten Pacitan)
  39. Kayu Agung (Kabupaten Ogan Komering Ilir)
  40. Sekayu (Kabupaten Musi Banyu Asin)
  41. Kuningan (Kabupaten Kuningan)
  42. Semarapura (Kabupaten Klungkung)
  43. Majalengka (Kabupaten Majalengka)
  44. Blora (Kabupaten Blora)
  45. Trenggalek (Kabupaten Trenggalek)
  46. Kepanjen (Kabupaten Malang)
  47. Pangkalan Bun (Kabupaten Kotawaringin Barat)
  48. Kolaka (Kabupaten Kolaka)
  49. Tidore (Kota Tidore Kepulauan)
  50. Rembang (Kabupaten Rembang)
  51. Solok (Kota Solok)
  52. Sengkang (Kabupaten Wajo)
  53. Tabanan (Kabupaten Tabanan)
  54. Pelabuhan Ratu (Kabupaten Sukabumi)
  55. Selong (Kabupaten Lombok Timur)
  56. Bangkalan (Kabupaten Bangkalan)
  57. Tondano (Kabupaten Minahasa)
  58. Bangko (Kabupaten Merangin)
  59. Stabat (Kabupaten Langkat)
  60. Donggala (Kabupaten Donggala)
  61. Kalabahi (Kabupaten Alor)
  62. Muara Enim (Kabupaten Muara Enim)
  63. Sinjai (Kabupaten Sinjai)
  64. Lubuk Pakam (Kabupaten Deli Serdang)
  65. Fakfak (Kabupaten Fakfak)
  66. Pinrang (Kabupaten Pinrang)
  67. Sumbawa Besar (Kabupaten Sumbawa)
  68. Maumere (Kabupaten Sikka)
  69. Soe (Kabupaten Timor Tengah Selatan)
  70. Sanana (Kabupaten Kepulauan Sula)
  71. Sungai Liat (Kabupaten Bangka)
  72. Lhokseumawe (Kota Lhokseumawe)
  73. Bengkalis (Kabupaten Bengkalis)
  74. Kepahiang (Kabupaten Kepahiang)
  75. Batusangkar (Kabupaten Tanah Datar)
  76. Padang Panjang (Kota Padang Panjang)
  77. Kalianda (Kabupaten Lampung Selatan)
  78. Pelaihari (Kabupaten Tanah Laut)
  79. Atambua (Kabupaten Belu)
  80. Muntok (Kabupaten Bangka Barat)
  81. Tanjung Balai (Kota Tanjung Balai)
  82. Bantaeng (Kabupaten Bantaeng)
  83. Masamba (Kabupaten Luwu Utara)
  84. Airmadidi (Kabupaten Minahasa Utara)
  85. Liwa (Kabupaten Lampung Barat)
  86. Praya (Kabupaten Lombok Tengah)
3 Hanya Dihuni Hewan Liar, Zona Nuklir Chernobyl Belum Dapat Dihuni 24.000 Tahun ke Depan

Hampir 30 tahun ditinggalkan penduduknya secara permanen, zona terlarang yang terkontaminasi radiasi nuklir Chernobyl hanya dihuni oleh hewan liar.

Wilayah Belarusia dan Ukraina yang terdampak diperkirakan belum dapat dihuni manusia dalam waktu 24.000 tahun ke depan

Sejumlah tanda peringatan radiasi berwarna kuning dan merah terletak di beberapa tempat di bagian Belarusia yang terkontaminasi. Tidak hanya di sana, di sejumlah wilayah Ukraina juga masuk ke dalam wilayah terlarang.

 

Saat ini, daerah itu menjadi lahan perburuan predator seperti serigala dan elang. Burung hantu cokelat dan burung gagak terlihat bersarang di atap maupun cerobong asap, dari bangunan yang ditinggalkan pemiliknya.

Pada 26 April 1986, kegagalan tes di pabrik nuklir Ukraina, mengirim awan membara berbahan radioaktif ke sebagian besar wilayah Eropa. Akibatnya, 100.000 orang harus meninggalkan zona berbahaya secara permanen.

"Manusia tidak mungkin bisa tinggal di sana. Bahkan untuk 24.000 tahun ke depan," kata Menteri Ekologi Ukraina, Hanna Vronska seperti dikutip dari Reuters, Kamis (7/4/2016).

Zona berbahaya seluas 2.600 km persegi terdiri dari hutan, rawa dan padang. Dampak negatif radiasi nuklir pada hewan masih menjadi perdebatan.



 

4 Indonesia Bertekad Kurangi 70 Persen Sampah Plastik

Pemerintah Indonesia bertekad mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada akhir 2025, dimulai dengan peluncuran rencana aksi nasional untuk menanggulangi sampah plastik laut.

Indonesia bersama badan untuk lingkungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), UNEP, telah memulai kampanye pembersihan sampah plastik lautan di Nusa Dua, Bali, Kamis (23/2).

"Pada akhir 2025 kami akan mengurangi 70 persen dari sampah plastik. Indonesia, hari ini meluncurkan rencana aksi nasional untuk menanggulangi sampah plastik di laut," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dalam siaran pers di Jakarta, Kamis.

Rencana aksi nasional tersebut berisi berbagai strategi dan rencana konkret di darat, wilayah pesisir dan laut.

"Pemerintah akan memberikan pembiayaan dalam melaksanakan strategi tersebut hingga 1 miliar dolar AS per tahun," katanya.

Menurut Luhut, dukungan pembiayaan tersebut akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam merealisasikan program nasional Indonesia bebas sampah.

Ia menjelaskan sampah plastik laut telah mengancam kehidupan ikan, mamalia, burung laut, dan terumbu karang di dunia.

Parahnya lagi, sambung Luhut, sampah plastik laut telah membanjiri pantai yang indah, tujuan wisata dan bahkan pulau-pulau terpencil.

"Mereka yang terkena dampak negatif ekonomi ini adalah penduduk lokal, karena wisatawan tidak akan kembali mengunjungi tempat-tempat yang penuh sampah plastik," ujarnya.

Luhut mengatakan Indonesia telah berhasil melawan pemburu ikan dan perompak bersenjata. Kini, pemerintah siap menghadapi tantangan sampah plastik laut.

5 Kondisi Terumbu Karang di Indonesia

Kondisi terumbu karang di Indonesia masih memprihatinkan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, hampir sepertiga kondisi terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan atau kurang baik. Meskipun kondisi ini telah mengalami tren membaik dalam sepuluh tahun terakhir.

6 Indonesia Penghasil Emisi Karbon Tertinggi Keenam di Dunia

Indonesia menjadi negara penghasil emisi karbon tertinggi keenam di dunia. Ranking keenam yang diterima Indonesia sebagai penghasil emisi karbon di antara negara-negara penghasil emisi karbon (CO2) lainnya di dunia dirilis oleh World Resources Institute (WRI) di Washington DC. Dan bertambahlah ‘prestasi’ Indonesia di bidang kerusakan lingkungan.

7 Pentingnya Menjaga Kesehatan Lingkungan

Menjaga lingkungan yang sehat merupakan upaya untuk mencegah penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial. Kualitas kesehatan berawal dari kesehatan lingkungannya yang ditentukan melalui pencapaian atau pemenuhan Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan.

Timbulnya penyakit atau gangguan kesehatan berawal dari lingkungan yang tidak sehat sehingga kita wajib menjaga lingkungan agar selalu sehat. Lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungannya terpenuhi. Menurut Peraturan Pemerintah nomor 6 Tahun 2014 tentang kesehatan lingkungan bahwa standar baku mutu kesehatan lingkungan ditetapkan pada media lingkungan seperti air, udara, tanah, pangan, sarana dan bangunan serta vektor dan binatang pembawa penyakit. Lingkungan yang perlu selalu dijaga kesehatannya meliputi Permukiman, Tempat Kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum.

Kita semua wajib ikut serta untuk mewujudkan kesehatan lingkungan. Mewujudkan lingkungan yang sehat bukan kewajiban perorangan, institusi pemerintah atau swasta tapi kita semua harus bergerak mewujudkannya tanpa saling mengandalkan baik di lingkungan tempat tinggal, Tempat Kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum lainnya. Dengan semboyan “mulai dari diri sendiri” kita gerakkan budaya menjaga kebersihan di setiap lingkungan. Kita mulai menyadari akan pentingnya menjaga lingkungan setelah penyakit menyerang kita atau ketika suatu bencana terjadi. Penyakit Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu dampak dari kelalaian kita dalam menjaga lingkungan dan banjir merupakan akibat kita buang sampah ke dalam aliran sungai.

8 Pecinta alam vs penikmat alam

Saya teringat beberapa waktu yang lalu ketika masih aktif di ReKSAPALA, salah satu Perkumpulan Pecinta Alam yang kebetulan saya adalah salah satu pendirinya.

Pada tanggal-tanggal seperti ini, sudah sederet acara yang kita rancang. Terutama untuk mengisi acara liburan kenaikan kelas. Camping, lah. Mendaki puncak gunung ini dan itu, lah. Panjat tebing, lah. Tour, lah.; Dan seabrek kegitan lainnya. 

Semua kegiatan yang kita kerjakan, selalu kita atas namakan “Pecinta alam”. Dengan memanggul rangsel besar dan matras, seakan kita pengen menunjukkan ke semua orang; Aku adalah seorang pecinta alam!!!. Bahkan namapundiembel-embeli dengan gelar S. Ag (Si Anak Gunung), SH (Sukane Hutan), dan lain-lain sebagainya.

9 Alamku sayang alamku malang

Jika kita bicara soal lingkungan hidup di Indonesia, maka kita akan bicara tentang paradoks. Disatu sisi, sebetulnya Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang berlimpah dan memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Sebagian besar spesies bisa ditemukan di Indonesia. Indonesia memiliki 17 % jenis ikan dunia, 25% jenis tanaman bunga, 25% unggas-unggasan ada di Indonesia. Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang sedunia. Hutan tropis Indonesia pun merupakan terluas se-Asia dan terluas ketiga didunia setelah Brasil dan Zaire.

10 DAMPAK PENCEMARAN BORON TERHADAP BIOTA PERAIRAN LAUT

DAMPAK PENCEMARAN BORON TERHADAP BIOTA PERAIRAN LAUT. Pembangkit listrik termasuk PLTN dan fasilitas industri dapat melepaskan bahan-bahan kimia anorganik berbahaya, seperti boron melalui pelepasan langsung atau melalui sistem pendingin ke dalam ekosistem perairan di sekitar instalasi tersebut. Boron adalah salah satu trace element yang merupakan unsur esensial yang diperlukan dalam pertumbuhan biota laut, tetapi akan bersifat toksis bila berlebihan, sehingga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan, reproduksi atau kelangsungan hidup. Toksisitas terhadap organisme akuatik, termasuk vertebrata, invertebrata, dan tumbuhan sangat bervariasi tergantung tahap hidup organisme tersebut dan lingkungan. Konsentrasi maksimum boron total untuk proteksi bagi kehidupan ekosistem perairan direkomendasikan tidak lebih 1,2 mg B/L. Tahap awal daur hidup biota lebih sensitif terhadap boron daripada tahap selanjutnya dan penggunaan air untuk proses operasi sistem yang berulang menunjukkan toksisitas yang lebih tinggi dari pada air alam