Informasi › Berita
  • Tanjung Benoa Kian Mendunia, Jadi Lokasi Kajian Ketangguhan Bencana oleh Peneliti Internasional

    Admin Web Badung

    Kamis, 11 Juni 2026 13:41 WITA | 90 kali dibaca

    Tanjung Benoa Kian Mendunia, Jadi Lokasi Kajian Ketangguhan Bencana oleh Peneliti Internasional
    Foto : Tanjung Benoa Kian Mendunia, Jadi Lokasi Kajian Ketangguhan Bencana Oleh Peneliti Internasional

    Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, semakin mengukuhkan posisinya di kancah internasional sebagai kawasan yang tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata bahari, tetapi juga sebagai rujukan pengembangan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. Pengakuan tersebut tercermin dari dipilihnya Tanjung Benoa sebagai lokasi pelaksanaan "Stress Test Workshop" yang melibatkan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Kanada.

     

    Kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Rabu (10/6/2026), merupakan hasil kolaborasi antara Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of Bristol, Western University of Canada, University College London (UCL), serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tanjung Benoa.

     

    Melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan, workshop tersebut bertujuan mengkaji sekaligus memperkuat sistem ketangguhan masyarakat pesisir dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

     

    Dalam sesi dialog bertajuk Skenario Ketangguhan Menghadapi Bencana, para peserta membahas sejumlah skenario kondisi darurat guna mengevaluasi kesiapan sistem mitigasi yang telah diterapkan di Tanjung Benoa serta mengidentifikasi peluang penguatan di masa mendatang.

     

    Peneliti Utama Bersama Tim Indonesia, Dr Mohammad Farid, menjelaskan stress test merupakan metode untuk menguji keandalan sistem yang telah ada dalam menghadapi berbagai kemungkinan kondisi darurat. Melalui pendekatan ini, tim peneliti berupaya mengidentifikasi kekuatan sekaligus celah yang masih perlu diperkuat dalam sistem kesiapsiagaan masyarakat.

     

    “Melalui workshop ini kami mencoba mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang sudah dimiliki masyarakat. Dengan melibatkan pemerintah, profesional, dan masyarakat, kami ingin melihat bagaimana sistem yang ada dapat semakin diperkuat, baik dari sisi peringatan dini, koordinasi maupun respons kebencanaan,” ujar Farid.

     

    Menurutnya, dipilihnya Tanjung Benoa sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Kawasan pesisir tersebut telah menyandang predikat Tsunami Ready Community dari UNESCO-IOC, sehingga dinilai tepat untuk menjadi lokasi kajian lanjutan terkait ketangguhan masyarakat menghadapi ancaman bencana.

     

    Farid menilai secara umum Tanjung Benoa telah memiliki kesiapan yang baik. Hal itu terlihat dari tersedianya titik-titik evakuasi tsunami serta meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap prosedur mitigasi bencana.

     

    “Kalau menurut kami, Tanjung Benoa sebenarnya sudah sangat siap. Banyak titik evakuasi tsunami yang sudah tersedia dan masyarakat juga cukup memahami langkah-langkah yang harus dilakukan. Namun kesiapsiagaan itu harus terus dipertahankan dan diperkuat,” katanya.

     

    Sementara, Ketua FPRB Tanjung Benoa, Dr. I Wayan Deddy Sumantra, menyambut baik pelaksanaan workshop tersebut. Menurutnya, kegiatan itu memberikan wawasan baru bagi masyarakat dalam memahami berbagai skenario kebencanaan, tidak hanya tsunami tetapi juga ancaman lain seperti banjir rob maupun bencana pesisir lainnya.

     

    “Kegiatan ini sangat bermanfaat karena tidak hanya membahas bagaimana menghadapi bencana saat terjadi, tetapi juga strategi penanganan dan pemulihan pascabencana,” ujar Deddy.

     

    Dia mengaku bangga karena Tanjung Benoa kini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata bahari, tetapi juga mulai berkembang sebagai kawasan edukasi mitigasi bencana.

     

    Menurut Deddy, Stress Test Workshop merupakan kelanjutan dari Asset Mapping Workshop yang telah dilaksanakan pada 2025 lalu. Dalam kegiatan sebelumnya, tim peneliti melakukan pemetaan berbagai aset dan potensi lokal yang dapat dimanfaatkan dalam mitigasi bencana, termasuk penggunaan kulkul sebagai alternatif sistem peringatan dini tsunami berbasis kearifan lokal.

     

    Hasil dan rekomendasi yang dihasilkan dalam workshop kali ini selanjutnya akan dibahas di internal FPRB Tanjung Benoa untuk dilatih dan diterapkan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya memperkuat ketangguhan kawasan pesisir.

     

    “Harapannya berbagai skenario yang dihasilkan dalam workshop ini dapat diterapkan langsung oleh masyarakat sehingga kesiapsiagaan terhadap bencana semakin kuat,” kata Deddy.


    Bagikan

TENTANG

Pemerintah Kabupaten Badung

Ini adalah website resmi Pemerintah Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.

Alamat
Jl. Raya Sempidi, Mangupura, Badung, Bali.

Media Sosial

KONTAK KAMI

  • Jl. Raya Sempidi, Mangupura, Badung, Bali.

  • diskominfo@badungkab.go.id

  • www.badungkab.go.id

FACEBOOK