Pengendalian Sampah Plastik: Mewujudkan "Urban Mining"

  • Dibaca: 40 Pengunjung
Pengendalian Sampah Plastik: Mewujudkan

Sampah industri dari plastik dan logam dapat dikembangkan menjadi industri daur ulang terpadu yang juga disebut urban mining.

Sampah plastik menjadi perhatian dunia karena mengotori lingkungan. Dalam catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), terdapat 13 juta ton sampah plastik yang mengotori lautan seluruh dunia per tahun.

Jumlah tersebut setara dengan membuang satu truk sampah berkapasitas 24 ton setiap menit.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kemenperin Teddy Caster Sianturi menuturkan plastik merupakan penemuan yang menandai perubahan zaman dan mendorong revolusi industri.

Semenjak ditemukan pada awal abad ke-20, plastik telah membawa banyak kebaikan dalam kehidupan. Untuk itu pendekatan yang harus dilakukan adalah pengelolaan terpadu.

"Sekarang mulai dari baju, handphone hingga laptop dibungkus dengan plastik," ujarnya, belum lama ini.

Teddy mengatakan luasnya penggunaan plastik membuat bahan ini sulit tergantikan. Untuk itu. yang didorong adalah perilaku manusianya agar patuh dengan memisahkan sampah yang dihasilkan.

Dengan proses daur ulang, maka sampah organik dan non organik dapat digunakan kembali dengan nilai keekonomian yang tinggi.

"Kuncinya adalah pengelolaan yang baik oleh masyarakat, industri dan regulasi pemerintah," tegasnya.

Di Indonesia, konsumsi plastik mencapai 5 juta ton per tahun. Dari jumlah ini, baru 50% yang dipenuhi oleh industri dalam negeri.

UNDP mencatat jumlah plastik yang dapat diolah baru berkisar 10%.

Untuk mengatasi masalah plastik dan limbahnya, Kemenperin memperkenalkan kebijakan 5R untuk industri. Selain reuse, reduce, dan recycle, industri juga diminta mengoptimalkan produk dan peralatan yang ada dengan melakukan recovery dan repair.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama PT Kemasan Ciptatama Sempurna Wahyudi Sulistya menyatakan produk olahan plastik harus dilihat sebagai pendorong ekonomi. Isu lingkungan yang muncul di permukaan harusnya dapat teratasi dengan konsep daur ulang.

Dia mengklaim pabrik perseroan di Karawang sanggup membeli kembali produk olahan plastik seperti styrofoam untuk diolah kembali menjadi produk turunan lainnya. Harga yang ditawarkan kepada para pengepul disebut cukup baik.

Menurut Wahyu, seharusnya kampanye yang didorong bukan mengganti produk plastik dengan produk lain tapi kepatuhan masyarakat dan industri untuk memilah sampahnya untuk kemudian didaur ulang menjadi produk yang dapat digunakan kembali.

Senior Programme Manager UNDP Indonesia Anton Sri Probiyantono menuturkan fokus yang harus didorong adalah tindakan berkelanjutan dan agar semua komponen lebih bertanggung jawab dalam menggunakan plastik.

"Dalam proyeksi kami, konsumsi plastik dunia tumbuh. Tidak ada penghentian, yang ada adalah pengendalian terutama untuk produk sekali pakai," sebutnya.

Saat ini, UNDP tengah bekerja sama dengan Kemenperin dan masyarakat di tiga provinsi untuk membentuk kerangka kerja pengendalian plastik.

"Misalnya pemerintah membuat aturan tentang air dalam kemasan, sampai ukuran berapa yang boleh diproduksi," jelas Anton.

Data UNDP menunjukkan kemasan plastik sekali pakai yang didapat akan dibuang dalam 10-15 menit kemudian. Akibatnya,  sampah plastik menjadi mengotori lingkungan.

Demikian juga banyaknya bahan plastik yang dicampur dengan bahan tahan api. Bahan ini berbahaya untuk lingkungan.

"Target kami menurunkan penggunaan tahan api ini dari saat ini 10% menjadi 0,01%. Artinya, harus dihapuskan semaksimal mungkin," tegasnya.

Untuk itu, urban mining dinilai harus diperluas ke seluruh Indonesia. Dengan pola ini, akan tercipata pengendalian sampah yang terintegrasi menjaga lingkungan sekaligus menjadi solusi untuk mendorong ekonomi masyarakat tempatan.

sumber: Annisa Margrit

  • Dibaca: 40 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya