BABY BLUES

  • Dibaca: 62 Pengunjung
BABY BLUES

Sekilas Cerita Mengenal "Baby Blues" dan Depresi Pasca melahirkan

Heni merasa berubah beberapa hari setelah melahirkan. Heni, sang istri awalnya tampak begitu penuh senyum dan kebahagiaan menyambut datangnya sang buah hati. Ia tampak gembira menyambut setiap tamu yang datang, pun menjawab semua komentar selamat di media sosial. Dua hari dirawat di rumah sakit, mereka diizinkan pulang, dan sejak itu semua kebahagiaan Heni tampak hilang. Heni kerap terlihat sedih, menangis, merasa bukan dirinya sendiri, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit konsentrasi, cemas, gelisah, dan mengalami susah tidur.

Contoh perubahan mood/suasana hati yang dialami oleh Heni di atas adalah gejala dari baby blues. Heni tidak sendirian. Sebagian besar wanita, yaitu hampir 80% mengalami setidaknya beberapa gejala baby blues segera setelah melahirkan. Secara umum gejala-gejala tersebut dapat terjadi pada beberapa hari setelah melahirkan, memuncak sekitar selama seminggu, kemudian perlahan memudar sampai menghilang pada akhir minggu kedua. Gejala-gejala ini dapat muncul juga pada orangtua yang mengadopsi anak/bayi.

Gejala baby blues disebabkan oleh  perubahan mendadak dari beberapa hormon kewanitaan pada peristiwa melahirkan. Hormon dan emosi memiliki kaitan yang kuat, sehingga perubahan hormon dapat menyebabkan mood yang berubah cepat, rasa sedih dan perasaan tidak berdaya. Faktor waktu tidur yang berkurang, adanya penyesuaian peran (menjadi orangtua baru, atau bertambahnya anggota keluarga) dapat terasa sangat berat pada awalnya, juga dapat menjadi penyebab baby blues. Tidak hanya ibu, bapak atau oran disekita juga perlu menjaga mood/stress dan kesehatan agar tidak ikut menjadi pemicu sindrom baby blues pada ibu. Ketika tubuh dan mental ibu sudak mengalami penyesuaian dan terbiasa dengan peran baru ini, umumnya gejala baby blues akan menghilang.

Baby blues syndrom bukanlah suatu penyakit, sehingga tidak memerlukan pengobatan medis yang serius. Dengan memberikan dukungan penuh baik oleh suami maupun keluarga seperti memberikan perhatian, rasa nyaman, menjadi pendengar yang baik terhadap keluh kesah ibu, membantu ibu dalam mengurus bayi dan rumah tangga lain dapat mengurangi gejala baby blues pada ibu yang mengalaminya. Selain itu dengan memberikan istirahat yang cukup dan waktu refreshing pada ibu akan sangat membantu mengurangi gejala baby blues ini.

Keterlibatan suami dan anggota keluarga lain dalam memberikan rasa nyaman kepada ibu akan sangat membantu proses penyesuaian peran seorang ibu. Proses ini diharapkan membuat kondisi baby blues pada ibu tidak berlarut-larut, baby blues yang tidak mereda dalam 2-3 minggu dapat menjadi suatu kondisi yang lebih serius, yaitu depresi pasca melahirkan (post partum deression). Depresipasca melahirkan dialami oleh sekitar 20% ibu setelah melahirkan ini dapat berlangsun selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah melahirkan

Gejala depresi pascamelahirkan sering kali sulit dibedakan dengan baby blues. Ibu yang depresi dapat mengalami rasa khawatir yang sangat berlebih, tidak terkontrol, yang menuju pada gangguan tidur (bahkan ketika bayi sudah tidur) dan perubahan nafsu makan. Ibu juga dapat mengalami rasa tidak mampu, rasa bersalah, sedih, putus asa sampai berpikir tentang kematian. Bahkan ibu dapat mengalami penarikan diri dari pasangan, menurunnya hasrat seksual, rasa kesepian, takut ditinggalkan, mudah tersinggung, dan bahkan merasa tidak mampu menjalin ikatan dengan bayi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ibu yang menderita depresi pasca melahirkan dapat melakukan tindakan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Pada beberapa kasus, gangguan ini dapat dibarengi dengan gejala gangguan jiwa psikotik berupa halusinasi, misalnya mendengar suara perintah untuk melukai bayinya.

Terdapat beberapa faktor risiko yang mempengaruhi seorang wanita dapat mengalami depresi pascamelahirkan. Sekitar 30% wanita yang pernah mengalami atau memiliki riwayat episode depresi  mayor juga dapat mengalami depresi pasca melahirkan. Faktor genetika, yaitu adanya keluarga yang mengalami gangguan ini juga merupakan risiko ibu mengalami depresi pascapersalinan. Faktor risiko lainnya adalah proses kehamilan dan persalinan yang sulit, keguguran, banyak anak, stresor kehidupan (misalnya ekonomi), kurangnya pengetahuan tentang mengasuh bayi (terutama di kalangan ibu yang masih remaja), serta kurangnya dukungan keluarga (terutama dukungan emosional).

Berbeda dengan baby blues, pengobatan depresi pasca melahirkan memerlukan bantuan tenaga kesehatan profesional untuk mengatasinya. Dukungan dan bantuan dari suami dan keluarga tetap sangat berarti bagi penderita depresi pasca melahirkan, namun seringkali itu tidak cukup. Kunci untuk membedakan kedua kondisi ini adalah beratnya gejala, seberapa sering dan seberapa lama gejala tersebut terjadi. Pada depresi pasca melahirkan, gejala berlangsung hampir setiap hari, ibu tidak mampu menjalankan fungsinya dan gejala ini terjadi lebih dari 2-3 minggu setelah melahirkan.

Baby blues membuat perasaan ibu menjadi sangat tidak nyaman dan dapat berkembang menjadi kondisi yang serius, yaitu depresi pasca melahirkan. Kedua kondisi ini dapat mempengaruhi peran ibu dalam mengasuh bayi dan akan mempengaruhi tumbuh kembang bayi. Agar ibu tidak mengalami kondisi baby blues dan tidak jatuh pada kondisi depresi pascapersalinan, perlu adanya pencegahan sedini mungkin. Pencegahan dapat mulai saat proses kehamilan berlangsung hingga proses persalinan dan masa nifas berupa dukungan dari orang-orang terdekat ibu, tidak menghakimi dan bersikap nyinyir tentang kekurangan ibu. Jika dukungan serta bantuan keluarga dan teman tersebut rasanya tidak cukup, maka jangan segan-segan untuk mencari bantuan profesional. Dengan demikian kondisi kesehatan ibu tetap baik dalam menjalankan peran barunya dan tumbuh kembang bayi dapat berjalan optimal.

admin bidang dalduk

(sumber : Bali Post, Dr. I Ketut Arya Santosa, M.Biomed., Sp.KJ,Dr. Putu Cintya Denny Yuliyatni,MPH )

  • Dibaca: 62 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya